Bank BPD DIY Gelar Economic Outlook 2027, Ketua Umum MES DIY Soroti Ketahanan Ekonomi dan Peluang Investasi Pariwisata Ramah Muslim
Yogyakarta, Poskini.com — Bank BPD DIY menyelenggarakan Economic Outlook 2027 bertema "Economic Resilience 2027: Dinamis Menghadapi Perubahan, Inovatif Menciptakan Pertumbuhan” di De Djokja Hotel, Yogyakarta, Selasa (27/10). Forum ini menjadi ruang strategis untuk membahas prospek ekonomi nasional dan daerah, mengantisipasi risiko global, serta memperkuat kolaborasi antara industri jasa keuangan, pemerintah, akademisi, dan dunia usaha.
Kegiatan ini dihadiri oleh Komisaris Utama Independen Bank BPD DIY, Ainun Na’im; Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah Bank BPD DIY, Raden Agus Trimurjanto; serta Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY, Dian Ari Ani. Turut hadir Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, Kurnia Febra Mikaza, dan Kepala Tim Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran dan Pengawasan SP-PUR Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Pratyaksa Candraditya, bersama unsur pemerintah daerah, akademisi, organisasi ekonomi, dan pelaku usaha.
Forum ini menghadirkan ekonom senior INDEF, Dr. Aviliani, S.E., M.S.I.; Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Bayu Sutikno, S.E., M.S.M., Ph.D.; serta Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh moderator dari FEB UGM.
Ketahanan Ekonomi DIY dan Peluang Pariwisata Ramah Muslim
Dalam paparannya, Prof. Edy Suandi Hamid menekankan bahwa prospek ekonomi tidak cukup dinilai dari capaian pertumbuhan dalam jangka pendek. Keberlanjutan pertumbuhan dan kemampuan daerah menghadapi perubahan perlu menjadi perhatian utama dalam merumuskan arah pembangunan ekonomi 2027.
DIY memiliki modal untuk memperkuat ketahanan ekonomi, antara lain pengalaman menghadapi krisis dan kemampuan memulihkan aktivitas ekonomi setelah bencana maupun pandemi COVID-19. Namun, tantangan ke depan adalah memastikan pertumbuhan tetap terjaga ketika sumber-sumber pertumbuhan mengalami perubahan.
Menurut Prof. Edy, pengembangan ekonomi DIY perlu didukung oleh sumber pertumbuhan yang beragam, termasuk industri pengolahan, pariwisata, pendidikan, ekonomi kreatif, dan sektor produktif lainnya. Ketergantungan pada proyek strategis nasional perlu diantisipasi melalui penguatan kapasitas ekonomi lokal dan penciptaan peluang investasi baru.
Ia juga menyoroti potensi pariwisata ramah muslim sebagai peluang investasi daerah. Dengan kekayaan budaya dan daya tarik wisatanya, DIY memiliki kesempatan mengembangkan layanan pariwisata yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan muslim sekaligus memperluas pasar bagi UMKM lokal.
Pengembangan pariwisata ramah muslim dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat ekosistem ekonomi syariah, terutama melalui kolaborasi antara pemerintah, perbankan, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas ekonomi syariah.
Daya Beli Masyarakat dan Antisipasi Risiko Global
Ekonom senior INDEF, Dr. Aviliani, S.E., M.S.I., menyoroti pentingnya menjaga konsumsi rumah tangga dan investasi dunia usaha sebagai penggerak perekonomian. Kebijakan ekonomi perlu memperhatikan kondisi permintaan pasar, daya beli masyarakat, serta perubahan perilaku konsumen.
Salah satu perhatian utama adalah tekanan terhadap kelompok kelas menengah yang berpotensi memengaruhi konsumsi domestik. Karena itu, penguatan daya beli perlu menjadi bagian dari strategi menjaga aktivitas ekonomi sekaligus mendukung keberlangsungan UMKM.
Aviliani juga menekankan pentingnya manajemen risiko dalam menghadapi ketidakpastian global, termasuk perubahan nilai tukar rupiah, harga energi, dan perkembangan pasar keuangan. Pelaku usaha dan industri perbankan perlu menyiapkan langkah antisipatif agar mampu menjaga kualitas keputusan investasi serta keberlangsungan usaha.
Pembiayaan UMKM dan Transformasi Digital
Dekan FEB UGM, Bayu Sutikno, S.E., M.S.M., Ph.D., menyoroti peluang bagi industri perbankan untuk memperluas pembiayaan UMKM. Meskipun UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, akses pembiayaan dan penguatan kapasitas usaha masih menjadi tantangan yang perlu ditangani secara berkelanjutan.
Di DIY, sektor akomodasi, makanan dan minuman, serta kuliner merupakan bagian penting dari aktivitas ekonomi daerah. Pengembangan sektor tersebut membutuhkan dukungan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan usaha, peningkatan kapasitas pelaku UMKM, serta pemanfaatan teknologi digital.
Bayu juga menyoroti potensi pemanfaatan jejak transaksi digital, termasuk QRIS, sebagai sumber informasi untuk membantu perbankan menilai aktivitas dan kelayakan usaha. Pemanfaatan data secara tepat dapat mendukung perluasan akses pembiayaan bagi UMKM yang memiliki prospek usaha.
Selain itu, pengembangan pembiayaan hijau perlu diperkuat untuk mendorong praktik usaha yang lebih berkelanjutan dan meningkatkan daya saing UMKM dalam jangka panjang.
Komitmen Bank BPD DIY Memperkuat Perekonomian Daerah
Dalam sambutannya, Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah Bank BPD DIY, Raden Agus Trimurjanto, menegaskan komitmen Bank BPD DIY untuk memperkuat perannya sebagai mitra strategis pembangunan daerah.
“Kami tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada kualitas pembiayaan, penguatan sektor produktif, transformasi digital, penerapan tata kelola yang baik, dan pengelolaan risiko secara prudent,” ujarnya.
Agus menjelaskan bahwa resiliensi digital menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat dan keberlangsungan layanan keuangan. Transformasi digital perlu disertai penguatan keamanan siber, keandalan sistem, perlindungan data, serta kemampuan beradaptasi terhadap risiko teknologi.
Bagi DIY, penguatan sektor unggulan, pengembangan UMKM, peningkatan daya saing pariwisata dan ekonomi kreatif, serta percepatan sertifikasi halal membutuhkan dukungan pembiayaan dan kolaborasi lintas sektor.
Melalui Economic Outlook 2027, Bank BPD DIY mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat perspektif mengenai arah perekonomian dan merumuskan langkah strategis dalam menghadapi tantangan tahun mendatang.
Partisipasi MES DIY dalam forum ini turut memperkaya perspektif mengenai pengembangan ekonomi syariah sebagai bagian dari pembangunan daerah. Kolaborasi antara industri jasa keuangan, pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga produktif, inklusif, dan berkelanjutan.
Bhenu