Get Poskini App with new looks!
Mode Gelap
More news: Poskini TV Radio Streaming Indeks Berita

Audiensi dengan Sekda DIY, MES Dorong Penguatan Pariwisata Ramah Muslim Berbasis Budaya dan Ekonomi Daerah

J. Saragih
J. Saragih
Audiensi dengan Sekda DIY, MES Dorong Penguatan Pariwisata Ramah Muslim Berbasis Budaya dan Ekonomi Daerah
Audiensi dengan Sekda DIY, MES Dorong Penguatan Pariwisata Ramah Muslim Berbasis Budaya dan Ekonomi Daerah. (Foto: Poskini)

Yogyakarta, Poskini.com — Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan audiensi dengan Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T., M.T., di Ruang Rapat Sekretaris Daerah DIY, Senin (26/10). Audiensi ini membahas penguatan ekosistem pariwisata ramah muslim sebagai bagian dari pengembangan ekonomi syariah, peningkatan kualitas layanan destinasi, dan penguatan daya saing pariwisata Yogyakarta.

 

Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas hasil Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026, tantangan pengembangan pariwisata ramah muslim di DIY, serta peluang kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

 

Ketua Umum MES DIY, Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec., menyampaikan bahwa pengembangan pariwisata ramah muslim perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan ekonomi daerah yang lebih luas.

 

“Dalam menentukan arah kebijakan, kita perlu melihat kepentingan makroekonomi. Pengembangan pariwisata ramah muslim jangan hanya berorientasi pada peningkatan peringkat, tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, memperluas peluang usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Edy dalam audiensi tersebut.

 

Bahas Hasil IMTI dan Arah Pengembangan Pariwisata DIY

 

Dalam pemaparannya, MES DIY menyampaikan bahwa DIY menempati peringkat ke-10 dari 15 provinsi yang masuk dalam penilaian IMTI 2026. Berdasarkan empat pilar penilaian, DIY berada pada peringkat ke-4 untuk Access, ke-8 untuk Communication, ke-13 untuk Environment, dan ke-8 untuk Services.

 

Pilar Environment menjadi salah satu perhatian utama karena mengalami penurunan peringkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan lingkungan pendukung pariwisata, termasuk kebijakan daerah, fasilitas yang memadai, keberlanjutan, dan koordinasi lintas sektor.

 

MES DIY menilai bahwa penyusunan peta jalan (roadmap) pariwisata ramah muslim diperlukan untuk memberikan arah pengembangan yang terukur sekaligus memperjelas pembagian peran organisasi perangkat daerah (OPD) dan pemangku kepentingan terkait.

 

Sekda DIY Tekankan Pentingnya Pendekatan Inklusif

 

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T., M.T., menekankan pentingnya membangun pemahaman yang tepat mengenai pariwisata ramah muslim agar tidak dipersepsikan sebagai konsep yang eksklusif.

 

Dalam pembahasan, Sekda DIY menggambarkan kebutuhan wisatawan secara sederhana, mulai dari tempat berkumpul yang nyaman hingga fasilitas musala yang layak. Ketersediaan fasilitas tersebut merupakan bagian dari kualitas layanan destinasi yang dapat meningkatkan kenyamanan pengunjung.

 

“Ketika kita ingin berkumpul, tentu kita mencari tempat yang nyaman, termasuk memastikan musalanya juga layak. Pariwisata ramah muslim bukan berarti tempat wisata tersebut hanya boleh dikunjungi oleh umat Islam. Ini tentang bagaimana destinasi mampu mengakomodasi kebutuhan wisatawan dengan baik,” demikian substansi tanggapan Sekda DIY dalam audiensi.

 

Sekda DIY juga menyoroti bahwa pembahasan mengenai halal tidak terbatas pada makanan, melainkan memiliki cakupan yang lebih luas. Karena itu, edukasi, literasi, dan penyampaian informasi yang tepat kepada masyarakat menjadi penting agar pariwisata ramah muslim dapat dipahami sebagai pendekatan peningkatan kualitas layanan yang inklusif.

 

Selain aspek pelayanan, pengembangan pariwisata DIY perlu tetap berakar pada identitas dan kekayaan budaya lokal. Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yang menekankan pentingnya menjaga harmoni dan kelestarian kehidupan, dapat menjadi landasan dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan dan selaras dengan keistimewaan Yogyakarta.

 

Widosari dan Kawasan Halal Ayam Goreng Kalasan Jadi Praktik Baik

 

Dalam audiensi tersebut, MES DIY turut menyampaikan rekognisi terhadap Desa Wisata Widosari dan Komitmen Kawasan Halal (KKH) Ayam Goreng Kalasan yang melibatkan 43 UMKM. Kedua inisiatif tersebut menjadi contoh praktik pengembangan ekosistem pariwisata dan usaha ramah muslim di DIY. Praktik baik tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan destinasi dan kawasan usaha lainnya. 

 

Dorong Tindak Lanjut dan Kolaborasi Lintas Sektor

 

Sebagai tindak lanjut audiensi, MES DIY mengusulkan sejumlah langkah strategis, meliputi penyusunan peta jalan atau rencana aksi pariwisata ramah muslim DIY, pemetaan kondisi awal berbasis pilar ACES (Access, Communication, Environment, dan Services), serta penyusunan Muslim Visitor Guide DIY. MES DIY akan melakukan koordinasi dengan perangkat daerah terkait, khususnya unsur yang membidangi perekonomian dan pariwisata.

 

Melalui audiensi ini, MES DIY berharap terbangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mengembangkan pariwisata ramah muslim yang inklusif, berakar pada budaya lokal, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat DIY.

 

Bhenu

Tags:

Komentar (0)

Berita Terkait

 
Poskini Network
Jaringan media berita daerah Poskini.com. Klik lebih lanjut